HATI GALAU KETIKA MASA BDR DIPERPANJANG

KEGALAUANKU KETIKA MASA "DIRUMAHKAN" BAGI PESERTA DIDIK DIPERPANJANG
By: Yuliana Tati Haryatin

Sesekali tulis status galau. Tetapi kegalauan saya ini berkaitan dengan tanggung jawab saya (orang tua) sebagai  pendidik pertama dan utama dalam keluarga, terutama dalam mendampingi keempat buah hati  yang berusia SD dan SMP di saat pemerintah memperpanjang masa dirumahkan bagi peserta didik.

Meski saat ini  pemerintah sudah menetapkan pembukaan tahun akademik 2020/2021 pada tanggal 13 Juli 2020, hal itu bukan berarti KBM di sekolah kembali dilaksanakan secara normal . Mengingat badai Corona belum berakhir, Kemendikbud telah menetapkan daerah yang di luar zona hijau untuk memperpanjang masa dirumahkan bagi peserta didik dan tetap melanjutkan belajar jarak jauh.  Kondisi ini tentu menjadi khabar dukacita bagi para guru, orang tua dan peserta didik.

Jika Anda juga adalah orang tua bagi anak-anakmu yang berusia  TK , SD, SMP, dan  SMA/SMK, pasti mengalami kegalauan seperti yang saya alami sekarang. Mengapa? Karena kita sudah merasakan betul bagaimana sulitnya membimbing anak selama tiga bulan kemarin sejak diberlakukannya "Belajar dari Rumah" atau yang biasa disingkat BDR.  Hasilnya sangat tidak maksimal. Banyak anak stress. Orang tua juga banyak yang stress.

Mungkin mereka yang hanya memiliki satu anak dengan  fasilitas yang serba lengkap tidak terlalu mengalami kesulitan, tetapi bagaimana dengan orang tua yang memiliki beberapa anak dari usia TK sampai SMA?  Dari sekolah dituntut untuk melakukan pembelajaran jarak jauh, sementara fasilitas di rumah serba terbatas. Belum lagi kalau orang tuanya guru, ketika fasilitas seperti hp dan laptop digunakan sebagai media pembelajaran jarak jauh, lalu bagaimana dengan anaknya sendiri yang berusia SD, SMP dan SMA  dengan jadwal  yang  bersamaan? Atau ketika kedua orang tua bekerja di luar rumah, lalu siapa yang mendampingi mereka di rumah?  Belum lagi kesulitan yang dialami peserta didik di daerah pedalaman yang tidak fasilitas yang lengkap dan tidak memiliki jaringan internet. Bagaimana mereka bisa belajar dari rumah? 

Oh...Corona, enyalah dari muka bumi ini.  Kau membuat kami pusing tujuh keliling. 😴😰

Komentar

Postingan populer dari blog ini

STKIP ST.PAULUS RUTENG DALAM BINGKAI KENANGANKU

MembumikanTeologi Melalui Teopraksis (Sebuah Tinjauan Reflektis)

PPDB SMAN I KOMODO