PENGUATAN PENDIDIKAN KARAKTER MELALUI GERAKAN LITERASI KITAB SUCI
Penguatan Pendidikan Karakter Melalui Gerakan Literasi Kitab Suci
Oleh: Yuliana T. Haryatin, S.Pd
Sepanjang sejarah manusia, pendidikan memiliki peranan yang sangat penting dalam pembentukan karakter seseorang. Melalui pendidikan, manusia dibentuk dan dididik untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Pertumbuhan dan perkembangan karakter seorang manusia sangat bergantung dari pendidikan yang dia dapatkan dalam lingkungan sekitarnya, entah itu dalam keluarga, di sekolah, maupun dalam lingkungan masyarakat. Jika pendidikan yang dia dapatkan baik, maka tentu itu akan berdampak positif terhadap pembentukan karakternya, begitupun sebaliknya.
Dalam dunia pendidikan kita saat ini, sedang hangat-hangatnya dibicarakan tentang pentingnya penguatan kembali pendidikan karakter. Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) ini dapat diimplementasikan mulai dari keluarga, sekolah, dan masyarakat. Dalam lingkungan sekolah, PPK dapat diimplementasikan dalam berbagai bentuk. Salah satunya adalah melalui gerakan literasi Kitab Suci. Ada begitu banyak kekayaan iman yang terdapat dalam kitab suci yang dapat dijadikan pedoman dalam hidup. Kekayaan iman tersebut dapat dijadikan pedoman bagi peserta didik untuk membentuk karakternya menjadi lebih baik dan beriman.
Khusus dalam pelajaran Pendidikan Agama Katolik (PAK) dan Budi Pekerti, Kitab Suci adalah buku sumber utama. Sayangnya, meski kitab suci menjadi buku sumber utama, masih banyak peserta didik yang literasi Kitab Sucinya sangat rendah. Tidak sedikit siswa yang mempertontokan perilaku negatif. Berperilaku kasar dan bertutur kata yang tidak sopan dengan teman. Kebiasaan menyontek sudah menjadi budaya. Banyak siswa yang bermental instan, munafik, dan bersikap ABS. Belum lagi perilaku membuang sampah tidak pada tempatnya, sehingga lingkungan sekolah kurang bersih. Nilai-nilai karakter seperti nilai religius, kejujuran, kerja keras, disiplin, kreatif, peduli lingkungan, dan nilai-nilai karakter lainnya mengalami kemunduran.
Saya meyakini dan berpendapat bahwa literasi Kitab Suci merupakan salah satu alternatif yang dapat dilakukan untuk membantu peserta didik menjadi semakin baik dan berbudi pekerti luhur.
Literasi Kitab Suci
Menurut Kamus Wikipedia literasi adalah istilah umum yang merujuk kepada seperangkat kemampuan dan keterampilan individu dalam membaca, menulis, berbicara, menghitung dan memecahkan masalah pada tingkat keahlian tertentu yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari (bdk.https://id.m.Wikipedia) Literasi dalam konteks Gerakan Literasi Sekolah (GLS) adalah kemampuan untuk mengakses, memahami, dan menggunakan sesuatu secara cerdas melalui berbagai aktivitas antara lain membaca, melihat, menyimak, menulis dan/atau berbicara. Dalam Pelajaran Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti (PAK dan BP), GLS dapat diimplementasikan melalui literasi Kitab suci.
Proses Pembelajaran PAK dan BP, tidak terlepas dari Kitab Suci. Kitab suci adalah Firman Allah yang tertulis. Firman Allah itu akan menjadi hidup apabila dibaca, direnungkan dan dihayati dalam hidup. Mengapa kita harus membaca dan mendalami sabda Tuhan yang terdapat dalam Kitab Suci? Ada empat alasan. Pertama, Kitab Suci adalah sarana utama untuk mengenal Kristus. Kedua, iman akan tumbuh dan berkembang dengan membaca Kitab suci. Ketiga, Kitab suci adalah buku iman Gereja (KOMKAT KWI: 151, 2008). Karena Kitab Suci adalah Sabda Allah maka untuk dapat menangkap isi pesannya, Kitab Suci harus dibaca dan direnungkan dengan iman dan dalam suasana doa.
Agar berhasil
Dalam pengalaman penulis selama tiga tahun terakhir, ada beberapa cara yang ditempuh untuk membantu sisws semakin akrab dengan kitab suci. Pertama, pelajaran selalu dibuka dengan doa. Masih dalam suasana doa, semua peserta didik wajib membaca Kitab Suci sesuai dengan teks bacaan Kitab Suci yang ada dalam Kalender Liturgi Gereja Katolik. Kebiasaan ini perlu diterapkan setiap hari saat memulai KBM. Untuk melatih konsentrasi siswa. Para siswa diwajibkan membaca ayat demi ayat dalam teks Kitab Suci secara bergilir. Cara ini, tentu mau tidak mau mengharuskan para siswa untuk memegang Kitab Suci masing-masing.
Kedua, pada akhir pelajaran, guru mewajibkan siswa untuk menulis refleksi berdasarkan teks bacaan Kitab Suci yang sesuai dengan tema pelajaran. Melalui cara ini, siswa dituntut untuk membaca teks Kitab Suci berulang kali. Harapannya adalah siswa tidak hanya sekedar membaca Kitab Suci tetapi mereka juga bisa menemukan makna dan pesan dari teks Kitab Suci tersebut lalu dikaitkan dengan pengalaman hidupnya. Dalam dan melalui proses ini guru menghantar siswa menemukan sendiri kekayaan-kekayaan iman dalam Kitab Suci untuk dipraktekan dalam hidup. Hasil permenungan itu, dituangkan dalam bentuk tulisan refleksi.
Ketiga, untuk tugas di rumah, guru mewajibkan siswa untuk membaca, merenungkan, dan menulis inti bacaan Kitab suci setiap hari, termasuk hari Minggu, dan apa pesan Tuhan untuknya sesuai dengan bacaan Kitab Suci tersebut. Hasil tulisan itu ditulis dalam buku khusus, dan pada saatnya akan dikumpulkan untuk diperiksa dan diambil nilainya. Dengan memberikan tugas ini, diharapkan siswa tidak hanya membaca Kitab Suci pada saat KBM di sekolah berlangsung, tetapi di rumah juga mereka tetap membaca Kitab Suci.
Saya meyakini jika cara-cara di atas diterapkan dengan sungguh-sungguh maka akan ditemukan perubahan yang cukup signifikan dalam diri para siswa. Lewat gerakan Literasi Kitab Suci, peserta didik dapat menggali begitu banyak kekayaan iman dalam Kitab Suci untuk mereka hayati dalam hidup, sehingga terbentuk karakter berdasarkan nilai-nilai kristiani. Karena itu, kepada rekan-rekan seprofesi, terutama yang mengampuh mata pelajaran Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti, ayo, mari terus galakkan pendidikan karakter di sekolah dan dalam seluruh karya hidup kita melalui gerakan literasi Kitab Suci.
Yuliana T. Haryatin, S.Pd, Guru SMAN 1 Komodo – Manggarai Barat
Komentar
Posting Komentar