ADA YANG BERBEDA

Ada yang yang beda. Yah, kali ini ada yang beda. Tak seperti biasanya. Sengaja saya ambil judul ini karena memang begitulah kenyataannya. Beda bukan hanya  karena apa yang saya rasakan, tetapi  karena memang kenyataannya menunjukkan bahwa ada yang beda. Kontes tulisan saya ini adalah situasi awal pembukaan tahun ajaran baru 2020/2021. 

 Pembukaan   tahun ajaran baru 2020/2021, secara resmi telah ditetapkan oleh Kemendikbud pada hari ini, Senin, 13 Juli tahun 2020. Biasanya, di pembukaan tahun ajaran baru begini, sekolah-sekolah sudah ramai menyambut kehadiran penghuni barunya di taman pendidikan. Mulai dari tingkat Taman Kanak-kanak sampai tingkat SMA/SMK, para peserta didik baru begitu girangnya menggunakan pakaian seragam barunya. Pokoknya serba baru. Seragam baru, tas baru, buku tulis baru, bertemu teman baru, guru baru, dan lingkungan sekolah yang baru. Wajah-wajah ceria penuh semangat melangkah dengan pasti memasuki lingkungan sekolah barunya. Ada kegembiraan saat bertemu dan berkenalan dengan teman baru, kakak-kakak kelasnya, dan para guru. 

Bukan hanya peserta didik baru yang senang. Peserta didik yang lama juga menyambut tahun ajaran baru dengan penuh kegembiraan setelah melewati liburan panjang. Ekspresi kegembiraan karena bertemu sahabat, teman ,dan para guru bervariasi, mulai dari saling menyapa, jabatan tangan, cipika-cipiki, berpelukan, dan berbagai bentuk interaksi lainnya.
 
 Selain itu, di hari pertama begini, siswa/I baik yang lama maupun  baru berkumpul di halaman sekolah untuk mengikuti upacara bendera. Semua peserta didik berbaris rapi di bawah satu komando. Pembina upacara telah siap memberikan arahannya. Pasukan pengibar bendera merah putih (paskibra) berdiri gagah dan siap menjalankan tugas mengibarkan sang saka bendera merah putih.  Usai apel, senior-senior atau kakak-kakak kelas  tampil dengan penuh percaya diri menyapa adik-adik kelas dengan gaya khas mereka. Sebagian ada yang mulai aksen di hadapan adik-adik kelas, sekedar cuci mata ataupun berkenalan lebih dekat dengan adik-adik kelasnya.
 
Selain siswa/i, para guru juga menyambut tahun ajaran baru dengan semangat yang baru. Halaman sekolah ,ruang guru, beranda sekolah, lorong-lorong sekolah, dipenuhi canda tawa para guru dan peserta didik. Nuansa persaudaraan dan keakraban semakin terasa. Tak ada sekat antara satu dengan yang lainnya.  Cipika-cipiki, bersenda gurau, berkumpul, bercerita, sungguh mewarnai hari-hari awal tahun ajaran baru.

Namun, kali ini ada yang berbeda. Di pembukaan tahun ajaran baru 2020/2021,  tidak ada lagi suasana ramai  seperti biasanya. Kalaupun ada, sungguh berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. 

Seperti yang kusaksikan pagi ini di taman pendidikan  SMAN I Komodo.  Semua siswa dan guru wajib menggunakan masker, jaga jarak dan interaksi  tidak sebebas dalam situasi biasanya. Apel pembukaan tahun ajaran baru, yang biasanya diikuti oleh semua siswa yang jumlahnya seribu lebih, kali ini hanya diikuti oleh peserta didik baru beserta para guru. Semua yang datang wajib mengikuti protokol kesehatan. Antara siswa yang satu dengan yang lainnya hanya bisa  saling menatap dengan senyum dibalik  masker. 

Akh.... Sungguh tahun ini terasa berbeda dari biasanya. Semuanya berbeda karena virus nakal yang bernama Corona itu. Entah sampai kapan situasi ini bisa berakhir. Jika situasi ini terus berlangsung , KBM secara normal tentu belum bisa dilaksanakan. Selama ini, dalam situasi pandemi Covid 19, pembelajaran terpaksa  dilakukan secara daring.  Kita semua tahu,  pembelajaran jarak jauh seperti itu sangatlah tidak efektif apalagi kami yang berada di wilayah ini. Pengalaman selama tiga bulan melaksanakan sistem pembelajaran jarak jauh, hanya sebagian siswa yang aktif , itu pun hasilnya tidak maksimal. Bahkan sebagian besar siswa bisa mengikuti pembelajaran jarak jauh  karena meminjam handphone orang tuanya. Untuk siswa yang tidak punya akses internet tentu tidak bisa mengikuti pembelajaran jarak jauh ini secara maksimal.  Hal ini sangat tidak adil bagi siswa. Padahal, pendidikan mestinya harus menjangkau semua peserta didik tanpa terkecuali. Tetapi suka tidak suka, kita harus berdamai dengan situasi ini. Bagaimanapun, keberlangsungan masa depan generasi penerus bangsa harus senantiasa dijaga kesehatan dan keselamatannya. Kita hanya berharap semoga badai ini cepat berlalu sehingga situasi kembali normal. Jika situasi kembali normal, peserta didik tentu bisa kembali ke sekolah dengan rasa bahagia. 
Bagaimanapun, anak-anak secara psikologis tentu membutuhkan ruang bermain dan berinteraksi dengan teman-temanya di sekolah. Mereka  merasa jenuh dan bosan karena sudah empat bulan  hanya belajar di rumah dan berinteraksi dengan keluarga dekat. Anak-anak sangat merindukan sekolah karena lingkungan sekolah adalah rumah kedua baginya. Mestinya ketika pembukaan tahun ajaran baru begini dimulai, peserta didik boleh berbahagia karena telah kembali ke rumah keduanya. Namun, wabah pandemi Covid 19 inilah, yang membuat pembukuan tahun ajaran baru kali ini sungguh berbeda. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

STKIP ST.PAULUS RUTENG DALAM BINGKAI KENANGANKU

MembumikanTeologi Melalui Teopraksis (Sebuah Tinjauan Reflektis)

PPDB SMAN I KOMODO