KETIKA GOOGLE MENYEDIAKAN SEGALANYA, APA DAMPAKNYA BAGI SISWA?
KETIKA GOOGLE MENYEDIAKAN SEGALANYA, APA DAMPAKNYA BAGI SISWA?
BY: YULIANA TATI HARYATIN, S.Pd*
Saya memang tidak membuat penelitian khusus di lapangan tentang hal ini, namun dari hasil pengamatan dan juga hasil sharing dari rekan seprofesi dan orang tua siswa, dapat saya simpulkan bahwa sebagian besar siswa mengandalkan google sebagai sumber utama dalam menyelesaikan tugas-tugas sekolahnya. Mengapa? Karena "Bos Google "sudah menyiapkan segalanya. Google memang sungguh luar biasa.
Yah, saat ini siapa yang tidak kenal yang namanya google? Mayoritas penduduk dunia mulai dari pusat kota sampai ke pelosok desa sudah mengenal bahkan memanfaatkan aplikasi digital yang bernama google ini. Bagaimana mungkin manusia di planet bumi ini tidak menggunakannya? Raksasa teknologi ini telah membuat pelbagai macam layanan yang memudahkan pekerjaan manusia. Mulai dari google search, google play, google dokumen, google drive, dan berbagai macam aplikasi layanan google lainnya.
Salah satu produk google yang paling banyak digunakan adalah google search. Dalam produk ini , penggunanya bisa mencari informasi apa saja, bahkan berbagai informasi itu sudah tersedia dalam berbagai bahasa. Perusahaan internet terbesar di dunia yang awalnya didirikan oleh dua mahasiswa di Amerika Serikat yang bernama Larry Page dan Sergey Brin ini memang memiliki misi yaitu menjadikan google sebagai lumbung informasi yang tak terbatas dalam dunia digital. Dan kini, misi itu sudah terwujud.
Berkat google, warganet tidak lagi kesulitan untuk mendapatkan berbagai informasi. Kehadirannya telah memudahkan begitu banyak orang untuk mengakses jutaan informasi dari berbagai sumber dan dalam waktu yang singkat. Asalkan punya ketersedian jaringan internet, maka apa yang terjadi di belahan dunia lain bisa dengan cepat diketahui oleh penduduk kampung di belahan dunia lainnya. Bahkan dengan semakin meningkatnya konektivitas lintas benua, lintas negara, lintas pulau, dan lainnya, banyak orang menganalogikan dunia ini sebagai sebuah kampung global.
Dalam dunia pendidikan, manfaatnya juga sudah dirasakan oleh banyak orang. Google telah menjadi tempat belajar yang baru baik siswa maupun guru. Berbagai ilmu pengetahuan dapat dipelajari dengan mudah. Video-video edukatif dan inspiratif dapat diakses oleh segenap warga sekolah dan kampus, entah itu guru, siswa , dosen, maupun mahasiswa melalui media digital . Selain itu, siswa dapat menyelesaikan tugas-tugas sekolahnya dengan cepat dan mudah.Tentu manfaatnya ini patut kita syukuri. Inilah salah satu kemajuan peradaban dunia yang mengagumkan.
Walaupun memiliki sejumlah manfaat seperti yang telah disebutkan di atas, di sisi lain, kehadiran google juga memiliki pengaruh yang buruk bagi mentalitas siswa. Coba kita amati anak-anak kita di rumah. Ketika google sudah menyiapkan segalanya, apakah mereka masih tertarik untuk membaca buku pelajaran, modul ataupun materi yang diberikan guru baik secara luring maupun daring? Apakah dengan menemukan jawaban di google, kompetensi yang diharapkan sudah tercapai? Benarkah siswa sungguh memahami materi atau tugas yang diselesaikannya itu?
Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini, tentu hanya siswa itu sendiri yang tahu secara pasti. Jawaban yang muncul bisa saja bervariasi. Untuk siswa yang mencintai dan memiliki budaya literasi, jawabannya bisa ya, namun tidak untuk siswa yang memang hanya mau serba instan dan budaya literasinya rendah. Bagi mereka, mencari jawaban dalam buku pelajaran membutuhkan proses yang lama. Mereka harus membaca dan memahami materi yang tersaji dalam setiap lembaran buku tersebut . Untuk memahami isinya, tidak hanya sekali baca, tetapi berulangkali. Berbeda dengan google. Tanpa perlu mengerutkan kening, google sudah menyiapkan semua jawabannya dalam waktu yang singkat dan cepat.
Yah, kehadiran google memang sungguh membuat mereka semakin dimanjakan. Hanya dengan mengetik soalnya di mesin pencarian, maka jawabannya sudah tersedia di sana. Tinggal copy paste jawabannya maka tugas sudah selesai dikerjakan.
Budaya instan seperti ni tentu berakibat buruk bagi kehidupan mereka di kemudian hari. Apalagi jika kebiasaan ini terbawa terus hingga dewasa. Sejak kecil, otak siswa tidak dirangsang untuk berpikir kritis. Tingkat ketergantungan siswa terhadap google semakin tinggi.
Terhadap persoalan ini, apakah kita tinggal diam saja? Tentu tidak. Untuk mengatasi hal ini, butuh kerja keras dari semua pihak. Bagi para guru. bentuk soal ulangan/tugas yang diberikan, sebisa mungkin merangsang mereka untuk berpikir kritis dan berpikir tingkat tinggi. Tidak mudah memang.
Dalam pengalaman saya, selama masa BDR ini, tak terhitung jumlahnya saya memberikan tugas mandiri kepada siswa saya yaitu berupa menulis refleksi berkaitan dengan penghayatan imannya sehari-hari , sesuai dengan tema pelajaran. Saya sengaja memberikan tugas itu, dengan pertimbangan bahwa kemungkinan untuk menemukan jawaban di google tidak ada. Saya hanya ingin agar mereka menulis tugas itu berdasarkan kemampuannya sendiri tanpa harus bergantung sepenuhnya kepada google. Kalaupun mereka mencarinya di google, jawaban yang muncul hanya untuk menambah inspirasi, karena pengalaman iman setiap orang tentu tidaklah sama. Dari hasil tulisannya, paling tidak saya bisa mengukur kemampuan siswa., meskipun tidak semata-mata hanya diukur dari situ .
Di masa pandemi seperti ini, memang ketercapaian kompetensi sulit diukur secara maksimal. Guru hanya bisa mengukur ketercapaian itu ketika siswa sudah tuntas mengerjakan tugas/ulangan/ujian baik secara daring maupun luring, Namun, nilai tinggi yang diperoleh siswa tidak menjamin bahwa siswa tersebut sudah sungguh memahami materi pelajaran yang telah diberikan oleh gurunya. Kita patut bersyukur jika nilai yang diperolehnya adalah bukti bahwa memang dia pantas mendapatkan nilai itu karena kemampuannya. Namun jika tidak, maka ini menjadi PR besar bagi kita, baik siswa, guru, pemerintah , orang tua maupun masyarakat.
Kita berharap agar badai ini cepat berlalu sehingga KBM tatap muka kembali berjalan normal. Ketika KBM tatap muka kembali normal,.maka guru akan lebih mudah mengukir ketercapaian kompetensi siswa. Namun, jika PJJ ini masih terus berlanjut, maka entah apa yang terjadi pada generasi yang berada pada angkatan pandemi covid 19 ini. Waktulah yang akan menjawabnya. Salam
Labuan Bajo, 09 Maret 2021
*Penulis adalah guru di SMAN I Komodo, Labuan Bajo, Manggarai Barat, NTT
Komentar
Posting Komentar