DULU AKU ADALAH GURUMU, TETAPI SEKARANG AKU ADALAH PASIENMU

DULU AKU ADALAH GURUMU, TETAPI SEKARANG AKU ADALAH PASIENMU

(Sepenggal kisah saat aku sakit)

Hari itu, 14 Maret 2021. Aku berada di puskesmas Labuan Bajo. Seorang perawat memanduku untuk masuk ke ruangan dokter yang sedang bertugas. Saat aku berdiri di pintu, dari dalam ruangan , seorang dokter cantik menyapaku dengan ramah. "Hallo Ibu, mari silahkan masuk." 

Aku masuk dengan langkah yang tertatih-tatih karena kondisiku yang lemah. "Selamat pagi ibu, silahkan duduk ." Katanya dengan lembut.

 "Selamat pagi juga bu Dokter", jawabku dengan singkat sembari membalas senyuman tulusnya. Sesaat dia memandangku dengan tatapan mata yang penuh kehangatan. "Sepertinya bu Dokter ini mengenaliku dengan baik." gumamku dalam hati.

 "Ibu sakit apa?" Tanyanya dengan lembut.  Aku pun menceritakan semua keluhanku. Si dokter yang manis ini mendekatiku dan memeriksa kondisiku. 

Mungkin karena dia merasa seperti aku tidak mengenalnya, tiba-tiba terlontar saja dari mulutnya,  "ibu tidak kenal saya? Ibu pasti lupa saya e". Dia tersenyum lembut kepadaku. 
  
Untuk sesaat aku menatapnya, dan keningku berkerut karena berusaha mengingat-ingat, apakah aku mengenal bu dokter ini? Karena kondisiku yang sedang sakit, aku sedikit kesulitan untuk mengenalinya. Apalagi wajahnya tertutup masker. 

"Saya Mila bu," Katanya dengan nada yang sangat akrab. Aku tersentak kaget bercampur gembira.  Dengan tersenyum sembari menatapnya aku berkata, "Aduh..anak sayang e, ternyata itu kamu, maafkan ibu gurumu ini yang tidak mengenalmu dari tadi. Apalagi tertutup masker..",  

Tak terasa, mataku berkaca-kaca,  bukan karena sedih tetapi  karena bangga dan terharu.
Yah, bagaimana saya tidak bangga?  

Ternyata si dokter cantik ini, adalah muridku dulu saat dia  duduk di bangku SMA. Rasanya baru kemarin aku membayangkannya berseragam putih abu. Ternyata waktu berjalan dengan begitu cepat.  

Gadis manis yang dulu menjadi muridku, kini menjadi dokter. Tentu ini adalah sebuah prestasi yang mengagumkan sekaligus membanggakan  bukan hanya bagi orang tua dan keluarganya tetapi juga bagi para guru yang mendidiknya. Aku adalah salah satu di antara para guru yang bangga itu. 

Aku masih ingat, kala itu aku pernah menjadi wali kelasnya di kelas X. Sebagai guru yang pernah menjadi wali kelasnya di masa putih abu, tentu saja aku mengenalnya dengan sangat baik. 

Dia adalah gadis manis yang rendah hati. Tutur katanya lembut, sopan, ramah,  dan  budi bahasannya baik. Bukan hanya itu. Dia juga adalah gadis yang cerdas,  dan berprestasi. Selalu menjadi bintang di kelasnya.

 Selain itu, dalam kegiatan rohani, dia juga aktif menjadi lektris, ajudah, peserta koor/paduan suara dan pemazmur. 

Aku bangga dengannya.  Ada beberapa teman seangkatannya juga yang saya tahu sekarang sudah menjadi dokter, perawat, bidan, apoteker, polisi, guru, dan berbagai profesi lainnya. 
 
" Ibu, saya harus rujuk ibu ke rumah sakit Siloam sekarang karena kondisi ibu ini harus ditangani oleh dokter spesialis". 

Ucapannya menyadarkan lamunanku.  Aku sempat syok karena tidak siap. "Separah itukah sakitku"? Gumamku dalam hati. 

Maklum, aku sedikit trauma kalau menyebut rujuk ke rumah sakit Siloam, karena aku pernah menyaksikan sendiri bagaimana perjuangan saudari sepupuku yang menghembuskan nafasnya yang terakhir di tempat itu. Sungguh tragis. Membayangkan kembali situasi itu, rasanya kesedihan ini kembali memenuhi relung hati. 

 Namun, aku percaya bahwa  si dokter cantik ini merujukku ke rumah sakit Siloam karena memang kondisiku yang parah dan perlu penanganan khusus. 

Dan benar saja, setiba di rumah sakit Siloam, dokter spesialis yang menanganiku   langsung mengambil tindakan medis dan  akupun  langsung diopname saat itu juga, untuk mendapatkan perawatan intensif.

 Dalam hati,  aku sungguh bersyukur dan berterima kasih kepada Tuhan karena bu dokter yang cantik itu telah mengambil tindakan yang tepat untukku. Jika tidak, entah apa yang terjadi denganku. 

"Terima kasih bu dokter cantik. Dulu aku adalah gurumu, tetapi kini aku adalah pasienmu" 

(Bersambung.... )

Goresan siang , Labuan Bajo,27 April 2021.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

STKIP ST.PAULUS RUTENG DALAM BINGKAI KENANGANKU

MembumikanTeologi Melalui Teopraksis (Sebuah Tinjauan Reflektis)

PPDB SMAN I KOMODO